lihatlah lebih dekat kau akan tau hakikatnya

Latest

Lebih Berharga daripada Emas

Tali pancing tak kunjung menegang. Umpan akan habis. Sedari pagi Ali belum makan, tidak ada ikan yang ia dapat.

Tak jauh dari situ, Usman, seorang pengemis juga belum makan sedari pagi. Biasanya ia mendapatkan banyak sedekah dari para pemancing di sana. Namun, karena ikannya sedang sedikit, hanya ada Ali saja yang memancing di sana. Ia pun hanya bisa menahan lapar sambil tertawa kecil jika melihat Ali mendapatkan sampah, bukannya ikan.

Tali pancing menegang. Ali mendapatkan sesuatu. Mungkin hanya sampah lagi, mungkin ikan. Tapi Ali tak peduli, ia tarik tali pancing sekuat tenaga. Namun apa yang ia dapat? Lagi-lagi bukan ikan, tapi juga bukan sampah. Sebuah Bejana Emas !! Ali sangat senang, ia bisa membeli makanan dari hasil menjual bejana tersebut.

Dari jauh Usman tertawa kecil lagi melihat Ali tidak mendapatkan ikan untuk yang kesekian kali. Namun senyumnya berubah menjadi penasaran ketika ia melihat Ali kegirangan dan ada yang bercahaya dari hasil pancingannya. Ia bergegas mendekati Ali, lalu segera mengetahui bahwa Ali mendapatkan bejana emas. ia berpikir bawa ia bisa mendapatkan uang yang banyak dari hasil penjualan bejana emas tersebut. Otaknya berputar mencari siasat bagaimana caranya ia bisa mendapatkan bejana tersebut. Namun sebelum ia berencana lebih jauh, dengan spontan mulutnya berbicara, “Bolehkah aku memiliki bejana itu hai pemuda? Aku belum makan sedari pagi.” Usman menyadari, sangat kecil kemungkinan permohonannya dikabulkan. Namun karena terlalu terkesima dan bernafsu untuk menguasai bejana emas tersebut, ia akan melakukan apapun, bahkan tindakan kasar untuk mendapatkannya.

Di tengah kegirangan, Ali sembari berpikir berapa harga bejana tersebut. Tiba-tiba ada seorang pengemis yang mendatanginya, dan berkata, “Bolehkah aku memiliki bejana itu hai pemuda? Aku belum makan sedari pagi.” Ali dengan spontan dan segera menjawab ” Oh boleh, silakan, ambil saja bejana ini” sembari tersenyum. Lalu ia kembali mengambil umpan dan berencana untuk melanjutkan memancing.

Usman terkaget ketika pemuda tersebut memberikan bejana emas itu dengan mudahnya, cuma-cuma, dan tanpa syarat. Dengan kegirangan, Usman dengan segera membawa bejana emas tersebut menjauh dari sang pemuda. Ia takut pemuda tersebut berubah pikiran.

Mendekati pasar, Usman masih memandangi bejana emas tersebut, namun perasaan senangnya berkurang seiring dengan bertambahnya rasa penasaran ia. Mengapa pemuda tadi dengan mudahnya memberikan bejana emas yang berharga ini? Apakah ini tidak berharga baginya? Padahal ia tau pemuda tadi juga belum makan sedari pagi, dan pasti akan menjual bejana emas tersebut untuk makan. Apa dibalik sifat pemurah itu? Apakah sebenarnya ia orang kaya? Lalu ia merefleksikan diri, pekerjaannya selama ini hanya mengemis. Ia tidak perlu repot memancing, hanya menunggu sebagian hasil pancingan orang-orang yang datang ke sana. Mungkin hasilnya bisa melebihi hasil pancingan satu orang. Tanpa usaha, ia mendapatkan banyak hasil pancingan, tapi ia selalu merasa miskin. Menjadi orang yang diberi.

Sesampainya di pasar, ia sejenak berhenti dan merenungi apa yang baru saja terjadi. Lalu seketika ia kembali ke arah danau tempat sang pemuda memancing.

Akhirnya Ali mendapatkan hasil pancingan. Ia merasa cukup, dan berkemas untuk segera pulang. Tiba-tiba pengemis tadi dengan tergopoh-gopoh memanggilnya, sambil membawa bejana emas yang tadi.

“Wahai pemuda, aku kembalikan bejana emas ini, tapi aku mohon, sekiranya engkau berkenan memberikan aku yang lebih berharga dari ini.” kata Usman.

Ali kebingungan lalu berkata,”Aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku tidak punya apa-apa lagi selain hasil pancingan ini.”

Usman berkata “Sesuatu yang lebih berharga dari ini, yaitu apa yang ada dibalik pemberianmu ini. Aku ingin memiliki ilmu, kebesaran jiwa yang membuatmu bisa memberikan bejana emas yang sangat berharga ini dengan cuma-cuma kepadaku.”

Ali baru mengerti. Ia tersenyum sambil berkata, “Oh, baiklah. Mari kita berjalan ke rumahku, sambil menikmati hasil pancinganku ini. Engkau belum makan dari pagi bukan?”

Itulah perkenalan pertama mereka. Obrolan panjang dan ikan bakar hasil pancingan terasa jauh lebih berharga daripada bejana emas bagi mereka.

Kaum Sinis

Dalam dunia investasi, resiko adalah sebuah keniscayaan. Resiko yang sama, akan menimbulkan reaksi yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang berani mengambilnya dengan prinsip ‘high risk, high return‘ atau orang yang menghindarinya dengan prinsip Sun Tzu ‘Janganlah berperang kecuali anda yakin anda akan menang’. Mana yang benar? Mana yang paling baik? Semua adalah seni, tergantung kasus riil seperti apa yang dihadapi.

Liburan kali ini saya melahap buku Robert T. Kiyosaki “Cashflow Quadrant”. Buku yang membuka paradigma saya terhadap yang ia sebut ‘kecerdasan finansial’. Buku ini juga membuka pandangan saya bagaimana sistem kapitalis bekerja, dan how to deal with it. Bagaimana kita bisa menang di dalam permainan yang bernama sistem ekonomi kapitalis.

Di sini saya tidak akan melakukan review atau menuliskan resensi dari buku tersebut, tapi ada yang menggelitik saat Kiyosaki membahas tentang beberapa macam Investor. Salah satu yang ia bahas adalah Investor “Pandai” tapi Sinis. Dalam menghadapi resiko investasi, orang-orang tipe ini mengetahui alasan mengapa investasi takkan berhasil. Mereka terlihat inteligen dan berbicara dengan gaya yang meyakinkan ketika ia dengan tepat mengutarakan analisisnya mengapa seseorang akan ‘tertipu’ atau gagal dalam investasi. Mereka menakut-nakuti orang lain terhadap sebuah peluang investasi dengan menganalisis resiko-resikonya. Namun mereka sebenarnya tekun mengikuti perkembangan pasar. Mereka mencari saham yang dibicarakan di halaman depan koran. jika bagus, mereka ikut beli. Namun itu sudah terlambat, karena investor yang benar-benar pandai akan membeli saham tersebut sebelum masuk pemberitaan di koran. Ketika mendapat kabar buruk, mereka mengkritik dan berkata “Sudah kuduga”.

Mereka mengira mereka masuk dalam permainan, padahal sebenarnya mereka hanyalah penonton yang hanya bisa mengomentari. Mereka ingin ikut bermain, tapi sangat takut terluka. Psikiater melaporkan bahwa sikap sinis adalah perpaduan antara rasa takut dan tidak tahu, yang kemudian menimbulkan sikap sombong. Mereka tahu mengapa sesuatu tidak akan berhasil, namun mereka tidak bisa mengatakan bagaimana caranya supaya berhasil. Kata sinis berasal dari Cynic, sebutan bagi sekte Yunani kuno yang dibenci karena keangkuhan dan sikap menghina terhadap kebaikan dan keberhasilan.

Terlepas dari konteks investasi, banyak sekali orang yang sesuai dengan ciri-ciri tersebut, di berbagai aspek. Menjadi penonton, dengan akurat memberikan analisis-analisis terhadap sebuah peristiwa, sambil duduk di sofa di depan kamera. Layaknya komentator sepak bola yang berkomentar terhadap terjadinya sebuah gol, jika kebetulan prediksinya benar, maka ia dengan bangga bisa berkata ‘sudah kuduga’.

Sebagai orang yang -katanya- melankolis, membaca tiap karakteristik investor, saya mencoba merefleksikan diri, termasuk bagian ini. Namun bukan dalam konteks investasi, tapi lebih global. Motivasi awal saya membaca Cashfow Quadrant, selain ingin belajar mengatur finansial pribadi, adalah mengetahui gameplay sistem ekonomi yang menjadi akar permasalahan ekonomi dunia saat ini, yaitu sistem Kapitalisme. Sudah sangat banyak pembahasan bagaimana sistem kapitalisme ini bobrok dan tidak adil -bahkan Kiyosaki mengakui dalam bukunya ini bahwa sistem ekonomi Kapitalisme itu tidak adil-, baik dari kalangan Sosialis maupun Islamis. Resesi dan depresi ekonomi sudah berulang kali terjadi, namun mengapa sulit berpindah sistem?

Saya tidak akan menyoroti dulu bagaimana incumbent , para pemain sistem kapitalis melakukan defense untuk mempertahankan sistem ekonomi saat ini. Yang saya soroti adalah bagaimana kaum yang mengusung revolusi sistem ekonomi ini menguasai solusi yang mereka tawarkan. Apakah kaum sosialis sudah memiliki kesepahaman terhadap konsep ekonomi sosialis mereka? Mengacu kepada gaya Marxis kah, Stalin dengan Sovyet-nya, atau Cina? Bagaimana realisasinya saat ini? Bagi kaum Islamis, tidaklah cukup mengagungkan kejayaan dan kestabilan ekonomi zaman Madinah dengan dinar-nya atau zaman Umar bin Abdul Aziz, saat tidak ada mustahik. Tantangan saat ini adalah bagaimana aplikasi dan realisasi ekonomi syariah yang anti riba? Dan bagaimana proses ‘migrasi’ dari sistem yang berbasis riba ke sistem yang bersih dari riba?

Mengetahui kesalahan adalah pintu gerbang, namun ternyata tidak cukup kita tahu kesalahan dari suatu sistem, tapi kita harus mengerti betul dan bisa menjalankan solusi yang seharusnya. Apalagi sampai bersikap sombong dan banyak gaya mengkritisi, tapi konsep yang seharusnya kita tidak mengerti, nantinya kita termasuk jadi kaum sinis. Na’udzubillah.

-reminder to myself-

nb:

buat yang pengen tahu awal mula sistem ekonomi kapitalis, bisa baca http://pohonbodhi.blogspot.com/2008/11/saya-menginginkan-seluruh-dunia-plus-5.html

Ga usah takut diomingin sinis, tahu masalah adalah pintu gerbangnya 🙂

Sumber :

[1] Cashflow Quadrant, karya Robert T. kiyosaki

Just Saved by a Million Accident Yesterday

Alhamdulillah, alhamdulillah..

Baru saja aku diselamatkan dari jutaan kecelakaan/musibah kemarin. Mungkin lebih.
Saya mulai sadar ketika terjadi sebiuah accident kecil ditanggal 28 Februari 2013. Pada saat itu aku sedang di tempat client dan akan melakukan presentasi. Pertemuan dimulai dengan obrolan ringan ditemani secangkir teh di atas meja bundar yang tidak terlalu besar, namun klasik. Ruang meeting yang tidak terlalu besar namun tenang menjadi setting yang sempurna untuk melakukan presentasi sembari menggali kebutuhan sang client. Presentasi telah disiapkan dengan berbagai skenario serta pertanyaan-pertanyaan yang menggali, siap direalisasikan bagai skrip naskah drama yang siap ditampilkan dalam sebuah teater.
Sebelum melakukan presentasi, aku menyiapkan power supply laptop agar presentasi bisa lancar tanpa diganggu baterai yang kehausan. Tasku berada di depan kaki, di kolong meja bundar yang klasik tadi. Dengan sembari tatapan masih memandang client, tanganku merogoh tas di depan kaki. Tanpa terasa ternyata jariku bersinggungan dengan bagian kaki meja yang sudah cukup tua. Dan apa yang terjadi? Kulit kayu dari kaki meja tersebut masuk ke dalam sela-sela kuku jari telunjukku karena gerakan yang cukup cepat. Refleks, kutarik tanganku dan apa yang kulihat? Sebuah kulit kayu yang lebih kecil dari ujung lidi masuk ke sela-sela jari telunjukku hingga tengah kuku. Sakitnya menusuk dan membuat ngilu. Segera aku berbisik pada rekanku, apakah ia memiliki jarum atau sesuatu yang bisa menarik benda asing yang terjebak ini. Awalnya ia memberikan isi stapler, segera kuambil dan kucoba untuk menarik kayu kecil ini keluar. Gagal. Rekanku ini sembari terus melakukan pembicaraan dengan client memberikanku gunting kuku. Masih tidak bisa. Hingga akhirnya aku meminta pada client apakah ada jarum atau tidak. Sang client keluar ruangan, lalu kembali dengan jarum pentul. Sedikit harapan, semoga bisa keluar. nyatanya, hanya melukai kulit unjung kuku jari saja.

Area Khusus Wanita di Busway

Selewat saja, apa yang terlintas di kepala saya ketika naik busway dan melihat area khusus wanita. Ini bukan hal yang baru pastinya, tapi sebagai orang yang belum lama tinggal (baca: ngekos) di Jakarta, baru kali ini melihat langsung dengan mata kepala sendiri, ada area khusus wanita. Melihat perbedaan area seperti ini pikiranku menerawang pada isu gender yang selalu digembar-gemborkan oleh para pejuang emansipasi. Ya, pertanyaan mulai muncul secara sporadis, apakah area khusus wanita ini melanggar kesetaraan gender? Bukankah di awal kemunculan busway justru emansipasi wanita juga yang membuat adanya perempuan sebagai sopir busway?

sopir busway wanita : “keren kan saya?”

Area khusus wanita ini disosialisasikan pada Desember 2011 dikarenakan meningkatnya kasus pelecehan seksual terhadap wanita. Yang tercatat saja, pada tahun 2011 mencapai 8 kasus, belum yang tidak tercatat (pada kenyataannya pasti lebih banyak). Terlepas dari emansipasi wanita, saya sangat sepakat dengan adanya area khusus wanita karena kaloa kata Bang Napi : “Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena niat pelakunya, tapi juga kesempatan. Waspadalah, waspadalah!”

Bang napi

Dengan adanya area khusu wanita, maka secara sistem, kemungkinan seseorang melakukan pelecehan sekual akan berkurang. Disini lah peran hukum dan sistem. Hukum (law) bukan hanya untuk memberi hukuman (punishment), tapi memiliki peran untuk mencegah dan mendidik. Dengan adanya penegakkan hukum yang tegas dan hukuman yang berat, serta sistem yang menekan kemungkinan kejahatan terjadi, bukan tidak mungkin angka kejahatan ditekan hingga mendekati 0%.

Uniknya, solusi area khusus wanita ini membutuhkan waktu 8 tahun!! (awal Januari 2004 beroperasi, area khusus wanita disosialisasikan pada akhir tahun 2012). Membutuhkan waktu 8 tahun dan memakan banyak korban dulu untuk melahirkan solusi ini. Hmm, pola pengaturan hukum dan masyarakat kita tertinggal bahkan dengan peradaban di 1400 tahun yang lalu. Ya, Islam sudah mengenalkan konsep Hijab dalam hubungan bersosial. Allah sudah mengetahui hukum dan sistem yang paling cocok untuk manusia, namun begitula, kita sebagai manusia dengan sombongnya, sok-sokan membuat kebijakan sendiri. Bahkan mungkin area khusus wanita ini bisa membuat kita bangga karena ini merupakan hasil analisis kita sendiri, yang padahal dibayar dengan banyaknya korban pelecehan seksual selama 8 tahun.

Namun saya juga berpikir, apa jadinya jika kebijakan area khusus perempuan itu diberlakukan sejak awal, di tahun 2004. Mungkin banyak yang menentang juga dengan alasan kesetaraan gender, atau emansipasi wanita, atau jangan terlalu berpihak pada satu agama lah, atau jangan terlalu arab sentris lah. Padahal konsep hijab sendiri adalah konsep yang memuliakan wanita, bukan merendahkan, seperti apa yang dibayangkan para pejuang emansipasi. Mengenai emansipasi wanita, teman saya pernah membuat kultwit tentang #emansipasi. Saya tekankan sekali lagi, hijab itu untuk memuliakan kaum wanita, maka pada hakikatnya kaum pria yang menjaga hijab adalah untuk memuliakan kaum wanita juga.

Pada akhirnya, jika kita melihat hukum yang telah Allah turunkan untuk manusia di dalam Al-Qur’an, pasti banyak hikmahnya, pasti. Mudah-mudahan untuk kasus yang lain, kita tidak perlu menungu banyak korban terlebih dahulu untuk mendapatkan solusi terbaik, yang sebenarnya, ujung-ujungnya sudah ada di dalam Al-Quran.

ladies area

Stop Finding Yourself, Create Yourself

Stop finding yourself, Create yourself

Sabar Terhadap Rezeki

Ali berjalan bersama muridnya dengan membawa kuda menuju sebuah tempat anak-anak yatim untuk memberikan sedekah. Ia menitipkan kudanya pada seorang bujang yang sedang duduk di dekat halaman tempat anak yatim tersebut. Ali menitipkan kudanya pada bujang tersebut untuk dijaga sementara ia memberikan sedekah pada anak-anak yatim.

Sekembalinya Ali dari tempat anak-anak yatim, ia melihat kudanya tanpa pelana dan si bujang sudah pergi dari tempatnya. Ternyata pelana kudanya telah dicuri oleh si bujang.

Ali bersama muridnya berjalan menuju pasar terdekat, dan ternyata telihat si bujang sedang menjual pelana miliknya pada salah seorang penjual di pasar.  Melihat itu, muridnya berusaha mengejar bujang tersebut, ingin menangkapnya. Namun Ali berseru, “Jangan!! Biarkan saja.”

Lalu Ali berjalan menuju pasar dan membeli pelana miliknya yang tadi dicuri oleh si bujang. Melihat hal tersebut, muridnya keheranan dan bertanya pada Ali.

“Wahai guruku, mengapa engkau membiarkan pencuri itu dan tetap membeli pelana yang sebenarnya milikmu?” tanya muridnya.

Lalu dengan tenang Ali menjawab, “Sebenarnya aku memang sudah berniat memberikan uang pada pemuda itu, sebagai imbalan atas penjagaan terhadap kudaku. Uang yang ia dapat dari hasil curiannya memang sudah rezekinya, sedikit saja dia bersabar, maka rezekinya itu akan ia dapatkan dengan halal. Namun Keserakahannya membuat rezeki yang memang telah Allah tetapkan baginya berubah menjadi haram baginya.”

‘Tak perlu kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita, jika memang sudah rezeki kita, ia tidak akan pergi dari kita’

Fenomena Jalan Rusak : Representasi Cara Berpikir?

Hari ini hujan besar sesaat mengguyur Bandung di siang hari. Saya pergi ke kampus dengan terburu-buru karena melihat awan yang telah membumbung kelam menutupi area kampus, berharap tidak terguyur hujan. Rumah saya di daerah Padasuka, jalur yang saya lewati ke kampus saat itu adalah melalui Bojongkoneng-Cikutra-Sadang Serang-Tubagus Ismail-ITB. Bagi yang sering melalui jalur ini pasti sudah teruji kesabarannya melalui bagian jalan yang sangat jelek di depan perumahan Alamanda, lembah Tubagus. Jalannya sangat jelek dengan kondisi jalan menurun dan menanjak.

Bagian jalan ini dulu sudah pernah diperbaiki dengan aspal, namun dengan cepat rusak lagi. Sempat beberapa kali diperbaiki namun dengan cepat rusak lagi. Entah putus asa atau apa, dalam jangka waktu yang cukup lama, jalan ini dibiarkan rusak dan membusuk di lembah Tubagus. Beberapa waktu yang lalu, bagian jalan ini diperbaiki dengan metode yang baru dan marak dalam perbaikan jalan di Bandung, yaitu dengan semen/beton. Dengar-dengar, kualitas jalan dengan semen ini memang jauh lebih kuat. Dulu metode ini dicoba di dekat rumah saya, daerah Cimuncang, yang luar biasa busuknya kerusakan jalan di sana pada jaman saya masih SMA. Dan memang lebih tahan lama daripada aspal biasa. Nah, anehnya, di Tubagus ini, baru saja diperbaiki, jalan semen itu ada bagian yang rusak lagi. Pada bagian lain memang lebih kuat. Dan sempat pada bagian itu di semen ulang.

Dalam perjalan ke kampus tadi, lewatlah saya pada jalan tersebut. Berharap nyampe kampus sebelum turun hujan, ternyata kondisi dari sadang serang menunjukkan bahwa daerah tersebut malah sudah beres hujannya. Sampailah saya pada lembah Tubagus. Sungguh kaget karena saya lihat di lembah itu sudah seperti kolam saja. Air dari arah yang berlawanan turun seperti air terjun, bukan hanya dari selokan, tapi dari tengah jalan. Anehnya, kondisi jalan yang miring menanjak itu banjir, karena nampaknya debit air yang meluap sangat besar. Dari air yang mengalir tersebut terlihatlah pola-pola jalan yang rusak. Jalan yang bolong, tergenang oleh air, lalu dilindas banyak kendaraan, sehingga semakin terkikis. Saya masih mengendarai motor sambil menhindari cipratan air dari mobil yang bergerak dari arah yang berlawanan. Dalam hati saya hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat selokan yang sudah tidak bisa menampung debit air dan sampailah pada bagian selokan sumber luapan air, yang menunjukkan di bagian sana selokan tersumbat. Terlintaslah sebuah pikiran saat itu.

Dari fenomena jalan rusak, perbaikan, dan banjir tersebut, nampaknya ada yang salah. Jalan rusak, semua mengomel untuk meminta perbaikan jalan. Setelah diperbaiki jalan rusak lagi. Diperbaiki lagi, rusak lagi. Mari kita modelkan: masalahnya adalah jalan rusak. solusinya adalah perbaikan jalan. Memperbaiki jalan dengan mengaspal ulang atau mengganti dengan beton memang solusi dari jalan rusak, tapi jika kita memodelkan masalah hanya dari masalah yang terasa (contoh jalan rusak) dan mencari solusi hanya dari itu saja (contoh memperbaiki jalan) kita hanya akan mendapat solusi jangka pendek. Makanya dalam kasus ini, jalan nanti akan rusak lagi dan solusi jangka pendek akan diambil berulang kali.

Read the rest of this page »