
Stop finding yourself, Create yourself

Stop finding yourself, Create yourself
Ali berjalan bersama muridnya dengan membawa kuda menuju sebuah tempat anak-anak yatim untuk memberikan sedekah. Ia menitipkan kudanya pada seorang bujang yang sedang duduk di dekat halaman tempat anak yatim tersebut. Ali menitipkan kudanya pada bujang tersebut untuk dijaga sementara ia memberikan sedekah pada anak-anak yatim.
Sekembalinya Ali dari tempat anak-anak yatim, ia melihat kudanya tanpa pelana dan si bujang sudah pergi dari tempatnya. Ternyata pelana kudanya telah dicuri oleh si bujang.
Ali bersama muridnya berjalan menuju pasar terdekat, dan ternyata telihat si bujang sedang menjual pelana miliknya pada salah seorang penjual di pasar. Melihat itu, muridnya berusaha mengejar bujang tersebut, ingin menangkapnya. Namun Ali berseru, “Jangan!! Biarkan saja.”
Lalu Ali berjalan menuju pasar dan membeli pelana miliknya yang tadi dicuri oleh si bujang. Melihat hal tersebut, muridnya keheranan dan bertanya pada Ali.
“Wahai guruku, mengapa engkau membiarkan pencuri itu dan tetap membeli pelana yang sebenarnya milikmu?” tanya muridnya.
Lalu dengan tenang Ali menjawab, “Sebenarnya aku memang sudah berniat memberikan uang pada pemuda itu, sebagai imbalan atas penjagaan terhadap kudaku. Uang yang ia dapat dari hasil curiannya memang sudah rezekinya, sedikit saja dia bersabar, maka rezekinya itu akan ia dapatkan dengan halal. Namun Keserakahannya membuat rezeki yang memang telah Allah tetapkan baginya berubah menjadi haram baginya.”
‘Tak perlu kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita, jika memang sudah rezeki kita, ia tidak akan pergi dari kita’
Hari ini hujan besar sesaat mengguyur Bandung di siang hari. Saya pergi ke kampus dengan terburu-buru karena melihat awan yang telah membumbung kelam menutupi area kampus, berharap tidak terguyur hujan. Rumah saya di daerah Padasuka, jalur yang saya lewati ke kampus saat itu adalah melalui Bojongkoneng-Cikutra-Sadang Serang-Tubagus Ismail-ITB. Bagi yang sering melalui jalur ini pasti sudah teruji kesabarannya melalui bagian jalan yang sangat jelek di depan perumahan Alamanda, lembah Tubagus. Jalannya sangat jelek dengan kondisi jalan menurun dan menanjak.
Bagian jalan ini dulu sudah pernah diperbaiki dengan aspal, namun dengan cepat rusak lagi. Sempat beberapa kali diperbaiki namun dengan cepat rusak lagi. Entah putus asa atau apa, dalam jangka waktu yang cukup lama, jalan ini dibiarkan rusak dan membusuk di lembah Tubagus. Beberapa waktu yang lalu, bagian jalan ini diperbaiki dengan metode yang baru dan marak dalam perbaikan jalan di Bandung, yaitu dengan semen/beton. Dengar-dengar, kualitas jalan dengan semen ini memang jauh lebih kuat. Dulu metode ini dicoba di dekat rumah saya, daerah Cimuncang, yang luar biasa busuknya kerusakan jalan di sana pada jaman saya masih SMA. Dan memang lebih tahan lama daripada aspal biasa. Nah, anehnya, di Tubagus ini, baru saja diperbaiki, jalan semen itu ada bagian yang rusak lagi. Pada bagian lain memang lebih kuat. Dan sempat pada bagian itu di semen ulang.
Dalam perjalan ke kampus tadi, lewatlah saya pada jalan tersebut. Berharap nyampe kampus sebelum turun hujan, ternyata kondisi dari sadang serang menunjukkan bahwa daerah tersebut malah sudah beres hujannya. Sampailah saya pada lembah Tubagus. Sungguh kaget karena saya lihat di lembah itu sudah seperti kolam saja. Air dari arah yang berlawanan turun seperti air terjun, bukan hanya dari selokan, tapi dari tengah jalan. Anehnya, kondisi jalan yang miring menanjak itu banjir, karena nampaknya debit air yang meluap sangat besar. Dari air yang mengalir tersebut terlihatlah pola-pola jalan yang rusak. Jalan yang bolong, tergenang oleh air, lalu dilindas banyak kendaraan, sehingga semakin terkikis. Saya masih mengendarai motor sambil menhindari cipratan air dari mobil yang bergerak dari arah yang berlawanan. Dalam hati saya hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat selokan yang sudah tidak bisa menampung debit air dan sampailah pada bagian selokan sumber luapan air, yang menunjukkan di bagian sana selokan tersumbat. Terlintaslah sebuah pikiran saat itu.
Dari fenomena jalan rusak, perbaikan, dan banjir tersebut, nampaknya ada yang salah. Jalan rusak, semua mengomel untuk meminta perbaikan jalan. Setelah diperbaiki jalan rusak lagi. Diperbaiki lagi, rusak lagi. Mari kita modelkan: masalahnya adalah jalan rusak. solusinya adalah perbaikan jalan. Memperbaiki jalan dengan mengaspal ulang atau mengganti dengan beton memang solusi dari jalan rusak, tapi jika kita memodelkan masalah hanya dari masalah yang terasa (contoh jalan rusak) dan mencari solusi hanya dari itu saja (contoh memperbaiki jalan) kita hanya akan mendapat solusi jangka pendek. Makanya dalam kasus ini, jalan nanti akan rusak lagi dan solusi jangka pendek akan diambil berulang kali.
Hidup di dunia engineer dan belajar di perguruan tinggi tidak lepas dari yang namanya pengembangan keilmuan yang bermanfaat. Dan pengembangan itu tidak pernah langsung drastis, namun sedikit demi sedikit, dan tidak hanya dilakukan oleh seseorang, namun dilakukan bersama-sama. Inilah yang membuat perkembangan teknologi semakin cepat berkembang, kita hidup di dunia keilmuan, dunia dimana mencuri itu halal. Ya, halal. Dalam hal ilmu, bahkan iri pun diperbolehkan. Mencuri ilmu dari orang dan mengembangkannya sedikit sehingga bertambah keilmuan di dunia. Setiap orang melakukannya, sehingga perkembangan teknologi begitu cepat.
Bajak-membajak ilmu itulah justru yang membuat ilmu berkembang. Meniru dan memodifikasi, memberi added value. Begitulah cara Apple saat membajak ‘mouse’ pertama kali dari Xerox dan fenomena perkembangan Android yang hidup di dunia Open Source, dunia yang luar biasa halal untuk mencontek.
Cukup ngalor-ngidulnya, intinya saya akan sedikit berbagi mengenai salah satu media bajak-membajak dalam dunia akademis. Pastinya mahasiswa yang pernah mengerjakan Tugas Akhir/ Skripsi pernah mengenal istilah Paper / artikel ilmiah. Dulu saya tidak pernah membayangkan bagaimana membuat Paper. Karena yang saya bayangkan, Paper itu harus sesuatu yang begitu wah dalam segi keilmuan, dan rumit serta jelimet. Namun semakin sering membaca Paper, ternyata inti dari Paper bukanlah rumitnya perhitungan dan jelimetnya suatu pengetahuan. Namun idenya yang penting. bagaimana kita memberikan added value pada suatu keilmuan tertentu. Selain itu, kita juga bisa memberikan sebuah pengalaman kita dalam sebuah perancangan.
Mari kita berdongeng sebelum tidur, izinkan saya berceloteh di sela-sela facebookan. Melihat komentar-komentar atas kejadian yang sedang menjadi Trending Topics di Nusantara, yaitu wafatnya Sondang Hutagalung. Jam 03.00 pagi, dengan pikiran campur aduk dengan paper yang harus diselesaikan siang ini, tiba-tiba terpikir sebuah kisah yang bisa menemani sebelum tidur sebagai renungan diri saya. Kisah khayalan yang muncul tiba-tiba. Ya tiba-tiba saja entah apa nyambungnya dengan paper saya.
Tersebutlah sebuah keluarga yang rusak di sebuah kota besar yang juga penuh dengan hiruk pikuk duniawi. Si ayah berasal dari keluarga kaya yang mendapatkan banyak harta warisan. Namun, sehari-hari ia adalah seorang pemabuk dan penjudi. Kerjanya siang hari hanya tidur, malam hari ke tempat perjudian mabuk-mabukan sambil menyewa pelacur. Pulang ke rumah dalam keadaan tak sadar diri, kecuali saat menampar istrinya jika istrinya menyambutnya dengan omelan-omelan wanita.
Sang ibu adalah seorang pembantu rumah tangga. Penghasilannya dari melakukan pekerjaan PRT tidaklah mencukupi untuk hidup seorang diri pun. Namun, bonus sebagai wanita simpanan sang majikan cukup besar sehingga ia bisa membiayai biaya sekolah anak-anaknya. Sebagian dari penghasilannya pun bisa menjadi bahan modal judi ketika si ayah sedang kalah judi dan maunya hanya menyiksa sang ibu. Nama sang ibu adalah Pertiwi.
Cerita pengalaman menarik dengan flow naik turun selama kompetisi komurindo.
Cerita mengenai komurindo, banyak orang yang salah persepsi. Kompetisi Muatan Roket Indonesia bukanlah kompetisi membuat roket dan ‘jauh-jauhan’ roket. Tapi kita diberi roket dengan sebuah kompartemen yang masih kosong. tugas kita adalah mengisi kompartemen kosong tersebut dengan sebuah sistem yang disebut muatan (payload) agar misi yang diberikan kepada kita bisa dijalankan. Misi yang diberikan pada tahun ini adalah melihat perilaku roket saat meluncur dan mengambil gambar dari ketinggian sekitar 800m dpl dan dikirimkan ke ground segment. Sensor wajib yang harus ada adalah akselerometer dan kamera.
Komurindo ini kompetisi yang sangat membingungkan, ketat, kompleks dan sulit. Dari sejak mendaftar, workshop, hingga hari kompetisi tiba, masih saja ada yang kurang jelas. Misalnya, data yang didapat oleh ground segment disebutkan harus dalam bentuk grafik. Tim kami yang menyiapkan dalam bentuk grafis 3D tidak diperbolehkan. Hal ini menambah kekhawatiran kami atas payload yang belum selesai integrasi algoritma. Kami ingin segera melakukan integrasi algoritma namun ketika kami sampai di pantai pandansimo, kami harus menghadiri penyambutan dulu dari warga setempat. Saya sebenarnya ingin mengapresiasi ketoprak yang ditampilkan, namun apa daya, diri tidak mengerti bahasa jawa. Ketika saya melihat ke sekeliling pun, para peserta yang notabene dari berbagai tempat di Indonesia, mulai dari Medan hingga Makassar, menonton ketoprak dengan pandangan kosong. Hanya puisi fail tentang payload saja yang bisa kami simak.
Day-1
Hari pertama adalah hari Uji Fungsional. Di malam setelah penyambutan, integrasi algoritma dilakukan, namun sayang sekali ternyata ada masalah dalam integrasi. Ketika modul i2c dimasukkan ke fungsi main yang sudah bisa telecommand, data dari accelerometer tidak terbaca. Kebingungan terus meliputi hingga akhirnya kami bawa tidur karena perilaku sudah menunjukkan bahwa kami terutama Hanif sudah tidak bisa berpikir jernih tentunya Fikri, Elian dan Angga sudah tumbang duluan.
Komisi Pemberantasan Korupsi.
Ialah komisi yang dibuat khusus sebagai back-up dari tidak mampunya perangkat negara yang bertanggung-jawab atas keadilan di negeri ini. Pada hakikatnya, Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) tidak diperlukan karena sudah ada perangkat negara yang bertugas untuk menyelidik, menghukum, dan menghilangkan segala tindak korupsi, yaitu Polri dan Kejaksaan. Namun ketidakmampuan kedua perangkat tersebut dalam memberantas korupsi, maka dirasakan perlunya sebuah wadah baru yang independen, tidak dapat dicampuri oleh kekuasaan maupun kepentingan manapun, termasuk presiden -yang berarti hingga skala presiden tidak dipercaya akan kebersihannya dalam berpolitik-. KPK diinisiasi dengan ketat, bayaran yang tinggi agar tidak tergoda korupsi, dan seleksi orang-orang yang berintegritas. Dengan adanya KPK, goncanglah segala lini pemerintahan, khawatir akan terciduk oleh sadapan-sadapan dari KPK, dan khawatir karena orang-orang yang mencoba bersih dalam pemerintahan -yang selama ini dikucilkan- memiliki jalan untuk ‘mengadu’. Hingga tahun 2010, total laporan pengaduan kasus korupsi yang masuk KPK mencapai 45ribu laporan. -what a nightmare for the rats-
Sendiri.
KPK adalah lembaga independen, bekerja keras untuk memeriksa dan mencari ‘tikus-tikus’ pemerintahan. Namun tugas mereka hanyalah sampai mencari, menemukan, membuktikan bahwa ada ‘tikus’, lalu ‘bilang sama pemilik rumah’ yang mereka pun harus menjamin bahwa pihak yang mereka laporkan bukanlah ‘komplotan tikus-tikus’ tersebut. Sungguh pekerjaan yang berat dan di posisi yang dilematis karena di satu sisi, mereka pun harus tetap waspada akan adanya ‘tikus-tikus’ yang menyusup ke tubuh KPK sendiri. Hal ini merupakan keniscayaan bagi para ‘tikus’ untuk bertahan hidup, pasti telah direncanakan. Jika posisi sudah seperti ini, pada siapa mereka harus meminta bantuan?
Seorang ustadz didatangi oleh seorang pemabuk di tengah-tengah pasar. Dengan lantang sang pemabuk berkata, “Wahai ustadz, aku tahu engkau belum shalat, shalatlah, sebelum ajal menghampirimu.”
Terlintas sesaat dalam pikiran sang ustadz, ‘Berani-beraninya seorang pemabuk mengingatkanku akan shalat. Tau apa dia tentang shalat. Huh, dia sendiri saja shalatnya mungkin masih bolong-bolong. Dasar Pemabuk, ia hanya memperlakukanku di depan umum.’
Namun dengan cepat sang ustadz menepis pikiran tersebut. Ia merenungi apa yang dikatakan sang pemabuk. Secara objektif, apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran. Ia mendapat suatu peringatan dan peringatan adalah sebuah anugerah dari Allah bagi seorang muslim. Ia memahami bahwa manusia adalah tempatnya khilaf dan lupa. Sangatlah sulit bagi seseorang untuk menjaga diri dari dosa tanpa bantuan orang lain. Ya, pada hakikatnya muslim adalah berjamaah, satu sakit, semua merasakan. Satu khilaf, yang lain mengingatkan. Alangkah beruntungnya seseorang yang diingatkan oleh saudaranya karena dengan itu ia mendapat energi lebih untuk kembali kepada kebenaran. Ia menyadari, bahwa perannya sebagai seorang ustadz di kalangan masyarakat, bukanlah karena ia sudah sempurna. Justru sebenarnya pada hakikatnya ketika ia memberi sebuah peringatan, peringatan itu untuk dirinya sendiri, bahkan dengan bobot yang lebih besar.
Dengan tersenyum, sang ustadz melangkah ke mushala, mengambil air wudhu, dan bersyukur kepada Allah karena Ia telah mengirim sebuah peringatan padanya melalui salah satu masyarakat yang ia bina.
Jibril pun tersenyum melihat semua berjalan sesuai dengan semestinya.
Percayakah kita bahwa secara kasat mata seorang muslim, dukun dan beo itu sama? Mari kita coba pada sebuah kasus yang paling sering dapat kita lihat fenomenanya sehari-hari, yaitu shalat.
Nyatanya secara kasat mata, jika kita lihat seorang muslim, dukun atau (seorang?) beo shalat, kita akan melihat bahwa mereka bertiga melakukan gerakan yang sama, dan bacaan yang sama. Lalu apa yang membedakan?
(Seorang?) Beo pandai meniru. Ia bisa meniru suara orang berbicara. tapi coba ajak dia bicara.Tidak akan bisa. Dia tidak akan mengerti apa yang ia ucapkan. Begitu pula saat shalat, ia hanya melakukan gerakan dan mengucapkan bacaan atas dasar meniru sesorang yang pernah bertemu dengannya dan mengajarinya. Ia tidak mengerti apa hakikat dan maknanya. Ia pun bergegas kembali bekerja begitu salam datar telah ia ucapkan kepada dua pengawal kehidupannya.
Post ini adalah post nyantai yang ga ada hubungannya dengan teori konspirasi, saya ambil judulnya ‘Freemason’ dengan arti secara bahasa, yaitu ‘tukang batu/tukang tembok yang bebas’. Ya, hari ini dapet pengalaman menjadi tukang tembok yang ‘free’, alias ga dibayar. Kok mau ya? Jelas, buat rumah sendiri kok, haha.
Jadi latar belakangnya adalah memang rumah saya belum jadi 100%, tembok luarnya pun masih terlihat bata merah. Minggu depan, di rumah bakal ada acara yang cukup banyak tamu, jadi ada beberapa bagian yang harus dipoles. Hari ini, yang perlu dipoles adalah bagian gerbang masuk mobil. Kondisinya, bagian gerbang ini tanahnya belum ditembok sehingga tidak landai, kondisinya seperti polisi tidur. Nah, misinya jelas, membuat landai bagian itu. Dan dimulailah saya belajar nembok bersama orang tua saya.
Recent Comments